Rabu, 20 Oktober 2010

DMC Dompet Dhuafa “Sigap Merapi”


Yogyakarta (20/10) Sebagai ujung tombak pengelolaan situasi kebencanaan Dompet Dhuafa, Disaster Management Centre (DMC) telah melakukan pemutakhiran kondisi Gunung Merapi.

Dari pantauan Data siesmograf hingga kini gempa di Merapi terus mengalami peningkatan. Gempa multifase dalam sehari bisa terjadi hingga 300 kali. Gempa multifase terjadi karena gempa vulkanik baik dalam maupun dangkal yang kuat terus terjadi sehingga di kubah lava mengalami kegempaan.

Dilaporkan pula, gejala alamiah sudah mulai menampakkan tanda-tanda aktifitas Merapi yang kian meningkat, di antaranya telah ditemukan hewan sejenis rusa yang mulai turun dikawasan kecamatan srumbung. “saya dapat khabar dari teman-teman yang pernah menjalankan program DD di Srumbung, rusa sudah mulai turun.”tutur Anto Koordinator DD Yogyakarta saat dihubungi via telpon pagi tadi (20/10).

DMC-DD telah mempersiapkan posko “Sigap Merapi” di Kecamatan Pakem sekitar kampus UII Kaliurang Yogyakarta. Posko tersebut berfungsi sebagai posko utama yang bersiaga manakala Merapi beraksi memuntahkan laharnya. Posko ini berdekatan dengan rencana lokasi pengungsian yang telah dipersiapkan oleh tim PB Kesbanglinmas Sleman.

Kini DMC-DD tengah mempersiapkan posko satelit berlokasi di BMT Al Ghifari Dusun Palem Argobinangun Pakem Sleman yang merupakan mitra Dompet Dhuafa Yogyakarta.

Cp. Iman Surahman
Head Division Response and Networking
0816 11 55 336

Selasa, 19 Oktober 2010

Penerima Beasiswa DD, Sumbang Sistem Pemilu Murah utk Indonesia

SELAMAT TINGGAL COBLOS

MASIH ingat betapa repotnya ketika berada di tempat pemungutan suara saat pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah pada 2009? Kita mesti membuka kertas suara selebar kertas koran dan mesti melihat wajah ratusan orang sebelum memutuskan memilih. Setelah memilih, butuh usaha keras untuk melipat agar lembaran itu bisa masuk kotak suara. Dan setelah itu giliran panitia yang bekerja keras menghitung hasilnya, kadang sampai lewat tengah malam.

Pemilihan umum empat tahun lagi, mungkin, bakal jauh lebih sederhana dengan bantuan komputer. Kita tinggal datang ke tempat pemungutan suara, mencari calon pilihan di layar komputer, dan menyentuhkan jari ke layar monitor di foto pilihan kita. Panitia tinggal leha-leha saja, tak perlu menghitung, dan malamnya kita sudah tahu hasil resmi perhitungan nasional. Bukan hasil quick count yang sekarang trendi itu.

Kesederhanaan dan kecepatan muncul jika Komisi Pemilihan Umum menggunakan konsep pemilihan umum elektronik (e-voting) buatan seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Salman Salsabila. Konsep ini dua pekan lalu berhasil menang dalam lomba rancangan e-voting yang digelar Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dengan menyisihkan puluhan desain lain. "Desain ini menang karena komprehensif dan sudah memperhitungkan kondisi negara kita," kata Kepala BPPT sekaligus pemimpin juri lomba, Marzan A. Iskandar.

Salman, yang tahun lalu bergabung dalam tim Universitas Indonesia yang masuk lima besar kompetisi aplikasi tingkat mahasiswa gelaran Microsoft, Imagine Cup, di Kairo, Mesir, merancang mesin yang sangat murah. Dalam rancangannya, mesin yang sanggup melayani tiga pemilih bersamaan di satu TPS itu hanya berharga sekitar Rp 8 juta. Jika hanya satu mesin untuk satu pemilih, harganya cuma separuhnya.

Harga itu jauh lebih murah ketimbang alat e-voting di Amerika Serikat, yang mencapai Rp 30-an juta. Dibanding mesin e-voting yang dipakai di Jembrana, Bali-satu-satunya tempat di Indonesia yang menerapkan e-voting, yakni dalam pemilihan kepala dusun-juga masih lebih murah. Di Jembrana, pemenang lomba yang sama tapi kategori institusi, untuk satu TPS yang bisa melayani dua pemilih sekaligus, mesinnya seharga Rp 15 juta.

Memang, dibanding peralatan yang dipakai India, mesin rancangan Salman lebih mahal. Tapi mesin yang dipakai di India memiliki kelemahan, satu mesin hanya bisa memuat 16 nama. "Sedangkan di Indonesia ada 44 partai, termasuk yang di Aceh," kata Salman. Padahal satu partai kadang mencantumkan belasan nama, sehingga ada ratusan orang.

Untuk menekan harga, Salman memakai komputer dengan spesifikasi yang secukupnya, tidak perlu dengan prosesor dahsyat. Ia menggunakan prosesor ARM920T, yang kadang dipakai ponsel cerdas. Ia tidak menggunakan prosesor Pentium Duo, misalnya. "Karena ini tidak untuk aplikasi yang berat seperti Photoshop, tapi hanya untuk satu aplikasi," kata Salman. Program grafis seperti Photoshop memang membutuhkan prosesor yang besar dan kuat.

Harga juga ditekan dari sisi monitor LCD. Ia memilih LCD "telanjang", yang bagian belakangnya tidak ditutupi, sehingga jauh lebih murah. Alasannya sederhana: nantinya bagian belakang itu akan ditutup dengan casing yang ia perkirakan-berdasarkan harga casing standar komputer-sekitar Rp 200 ribu.

Meski murah, set komputer untuk tempat pemungutan suara itu cukup lengkap. Setelah menyentuh calon favoritnya di layar monitor-tidak lagi mencoblos-pemilih akan mendapat "struk" yang berisi pilihannya. Struk ini untuk memastikan bahwa pilihan kita tidak diubah oleh komputer. Struk ini dibuat karena masalah sosial. "Kalau kita sudah percaya dengan sistem ini, tidak perlu sebenarnya struk seperti itu," kata Sukrisno Mardiyanto, ahli informatika ITB yang juga menjadi juri.

Dalam struk juga disertakan kode QR, semacam barcode, agar tidak dipalsukan. Struk hasil suara ini kemudian dimasukkan ke kotak suara seperti dalam pemilihan konvensional. Kotak suara ini untuk jaga-jaga: jika ada yang tak puas dengan hasil perhitungan komputer, bisa dihitung manual. Bila semua puas, kotak itu cukup disimpan.

Komputer juga akan mengirim hasil suara ke server pusat di tingkat nasional lewat Internet. Agar tidak kebobolan di tengah jalan, data disandikan. Di server pusat, data bisa dilihat lewat Internet melalui jalur terbuka, dan masyarakat bisa melihat hasilnya secara langsung.

Dalam komputer rancangan Salman, seperti dalam pemilihan kepala dusun di Jembrana, warga mesti memiliki kartu tanda penduduk elektronik. Kartu ini menjadi pengganti kartu pemilih. "KTP elektronik itu prasyarat," kata Marzan. KTP elektronik itu yang menyebabkan apakah Pemilihan Umum 2014 bakal menggunakan e-voting atau tidak masih terganjal.

Jika benar menggunakan e-voting, untuk pengadaan tentu saja KPU bakal mengadakan tender. Rancangan Salman, kata Marzan, bisa membantu memperkirakan biaya dan spesifikasi yang akan dipakai. Sesudah tender, tentu, mesin akan didistribusikan ke seluruh pelosok Indonesia, dan kita tidak perlu mencoblos lagi.

Nur Khoiri

Minggu, 17 Oktober 2010

Banjir Wasior: Mayat Wasior, Kini Bernafas di Jakarta


JAKARTA - Enam kursi pesawat harus dibongkar kemudian dipasangi tempat tidur untuk membawa Lisa Auparay, 20 tahun, korban banjir Wasior, dari Manokwari ke Jakarta. Lisa dirujuk Tim Dokter RSUD Manokwari ke Jakarta bersama Tim Sigab (aksi tanggap bencana) LKC Dompet Dhuafa Roby Suryadi ke RSCM dikarenakan keterbatasan tim medis dan alat kesehatan di RSUD Manokwari.
Pasien Lisa mengalami patah tulang bahu, luka menganga di kepala sehingga terlihat sebagian isi dalam kepala dan begitu juga ditemukan luka lebar di kaki kanannya.

Berangkat dari Manokwari pukul 13.00 WIT sampai di IGD RSCM 20.00 WIB. Pesawat sempat transit di Makasar selama 2 jam. Proses pemberangkatan dari Manokwari sampai Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) tidak menemui masalah berarti. Hanya saja sesampai di Bandara Soeta untuk mendapatkan izin ambulance dalam penjemputan Lisa sedikit terkendala, agaknya administrasi tidak begitu peduli dengan kondisi pasien yang harus segera mendapat pelayanan kesehatan lanjutan di RSCM.

Menurut petugas bandara, hanya ambulance bandara saja yang bisa masuk sampai ke pesawat parkir, untuk ini Ambulance LKC harus standby di Centra Medika Bandara. Biaya pengambilan pasien dari pesawat dengan ambulance bandara tersebut, LKC dimintakan pembayaran Rp300.000,- dari tawar-menawar akhirnya disepakati Rp.200.000.
Alhamdulillah, setelah pembayaran selesai, pasien segera dilarikan oleh Ambulance LKC yang disupiri Nurrahim ke RSCM dengan kecepatan penuh. Sesampai di RSCM tim dokter IGD sudah standby dan langsung memberikan tindakan selain pemeriksaan pisik dilakukan juga biopsi dan pemeriksaan di radiologi, baik rongent maupun CT Scan. Proses pemeriksaan berlangsung pukul 20.00 WIB s.d 3.59 WIB, setelah itu pasien diinapkan di Irna Gedung A, kamar 510.

Kantong Mayat

Tak ada yang menyangka Lisa masih diberikan kesempatan hidup oleh Yang Maha Kuasa. Padahal ketika evakuasi terhadap korban bencana Wasior, Senin (4/10), Lisa sudah sempat diduga mati. Ia ditemukan tidak jauh dari bekas rumahnya oleh tim sar dalam kondisi kepala kejepit batu dan tubuh tertimbun lumpur. Setelah ia dimasukkan kantong mayat kemudian Lisa di bawa ke pelabuhan Wasior di mana mayat-mayat yang korban bencana itu dikumpulkan. Ketika menaruh kantong itulah Lisa bergerak dan berteriak sakit.

"Saya sadar dan tahu saya dimasukkan ke kantong mayat, tapi suara saya tak keluar karena saya tidak bisa menggerakan kepala saya. Ketika ditaruh di antara korban lain, saya merasa sakit karena tulang saya yang patah terasa bergeser. Lalu saya menggerakkan kaki serta berteriak semampu saya," cerita Lisa kepada lkc.or.id di RSCM, Minggu Malam (17/10/10).

Mengetahui Lisa masih hidup Tim Sar langsung mengontak helikopter dan melarikan Lisa ke RSUD Manokwari untuk mendapatkan pertolongan pertama. Di rumah sakit inilah Lisa bertemu dengan Tim Medis LKC, Roby Suryadi. Setelah berkoordinasi dengan tim medis di RSUD Manokwari akhirnya diputuskan untuk merujuk Lisa ke Jakarta, karena didiagnosa banyak luka spesifik karena benturan di saat terseret banjir.

Menurut Roby, sebenarnya rujukan ke RSCM ini sudah keluar tanggal 8 Oktober 2010, tapi karena alotnya urusan pesawat yang mau membawa pasien ke Jakarta akhirnya pemberangkatan tertunda hingga 18 Oktober 2010. "Syukurlah Merpati Air Lines mau membawa Lisa meski membongkar 6 bangkunya," kata Roby. "Untuk ini kepada Merpati kami haturkan terimakasih."

Bertahan

Menurut cerita Lisa, ketika banjir datang ia sedang berada di belakang rumah. Ia melihat sendiri dari kejauhan ada air bah datang setinggi pohon. Ia berteriak meminta kakak iparnya untuk membawa 3 ponakannya yang ada di dalam rumah untuk menyelamatkan dirinya. Mereka berhasil terhindar dari bencana itu. Hanya saja giliran Lisa ketika berupaya lari, air bah itu datang dan menyeret dia serta rumahnya.

"Aku tersangkut di pohon. Tapi tidak lama banjirnya malah lebih tinggi dari pohon itu. Saya terseret lagi, rumah tetangga yang hanyut menghantam saya, atap sengnya menggesek kepala saya dan membuat kepala saya luka sampai tulang tengkorak. Saya terus terseret dan tidak lama kepala saya sudah berada di antara dua batu," tutur Lisa.

Di dalam air yang bercampur lumpur, lanjutnya, ia berusaha untuk bertahan. Syukur ada rongga batu yang menjepit kepalanya tidak digenangi air, hal itu membuat ia masih bisa bernapas. Saat itu sudah merasakan kakinya luka, tangannya kejepit dan tulang bahunya patah. Kepalanya terus basah karena darah. Barulah sorenya ia dievakuasi, itupun dimasukkan ke dalam kantong mayat.

Sejak terjadinya banjir hingga ia berada di RSCM, ia sadar dan tidak pernah pingsan serta tidak pula muntah-muntah. Hanya saja tubuhnya tak bisa bergerak, kalau bergeser sedikit ia terasa sakit.

Menurut dokter jaga IGD RSCM, secara umum Lisa tidak ada gangguan berarti di bagian dalam, yang berbahaya hanya infeksi lukanya yang sudah bernanah di kepala. Dijadwalkan akhir pekan ini Lisa akan menjalani beberapa operasi untuk recovery. -LKC/Maifil