Selasa, 30 April 2013

Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu


Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa.

Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati... terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...

Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata... Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati di sini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.


Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg LUAR BIASA , Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja? Pastikan diri kita BERGUNA untuk orang banyak."


dari teman yang tak pernah menghitung kebaikannya: L.U.P.I.N

Senin, 01 April 2013

Dari Ayah untukmu Nak

.

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu , tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.

Dari ayah yang senantiasa merindukanmu, air mata ini masih menetes saat akan kututup suratku ini nak. Semoga kalian berbahagia di dunia dan akhirat. Amin Yaa Alloh Yaa Robbal Alamin.


#dari catatan yg terserak #anonim

Minggu, 06 Januari 2013

Cincin Nikah untuk (Calon) Gubernur


Ahad pagi 6 Januari. Hujan berganti-ganti deras dan gerimis. Menjadi salah satu hari penting dalam hidup saya. Sebuah pertemuan yang saya fasilitasi utk menggalang dana kader, bagi hajatan politik di Jawa Barat.

Ekspektasi saya sederhana, sekedar rupiah yg ada di kantong, atau selembar-dua diantara yg terselip di dompet. Mengingat ini adalah memenangkan Gubernur yang menjabat. Tentulah ada persiapan yg cukup utk maju. Apalagi memasuki periode kedua. Pastilah matang perhitungan matematis, materil dan nonmateril. Namun kenyataannya berbeda. Dimamika di lapangan menuntut insiatif pembiayaan yang tidak bisa menunggu. Maka, dari sekitar 30 orang berhimpun, lelaki dan perempuan, terkumpul lebih dari 20 juta rupiah; beberapa komitmen rupiah tambahan, dan beberapa barang. Nilai yang cukup besar untuk ukuran penggalangan level kelurahan.

Kumpulan ini berlangsung di mushallah kecil, di pinggir Jawa Barat, di Kukusan-Depok. Dihadiri oleh kebanyakan Ibu-Ibu, sebagian besar Ibu Rumah Tangga. Walau sebagian ada yang PNS dan profesional medis dan lain-lain. Saya menakar tentulah matang perhitungan Ibu2. Terutama berkaitan dgn pengeluaran dan biaya tambahan.

Maka hasil penghimpunan yg terkumpul menghentak benak saya. Ada yg tidak bisa dimengerti secara pragmatis. Bagaimana kumpulan orang-orang ini mau mengeluarkan anggaran 'ekstra' mereka utk membiayai Gubernur yg telah 5 tahun memimpin daerah dengan PAD Rp 13 Trilyun??

Kenyataan ini menggelitik nalar logis yg sangat lazim sy gunakan. Kecuali ada hal lain, sesuatu yg sangat prinsipil, maka realita ini bisa dipahami. Karena selain uang yg terkumpul, ada satu cincin emas yg mencolok diantara tumpukan uang merah, biru, dan benda2 lain. Benda tersebut sebelumnya berada didalam lipatan kertas yang bertulis "ini cincin nikah saya, tapi lupa berapa gram bobotnya".

Ringan saja, kalimat tulisan tersebut tertera. Sulit bagi saya menakar beban pertimbangan kalimat tertulis. Jika tersampaikan lisan, akan mudah menakar raut wajah. Namun bagaimana menakar ekspresi pemilik lembar putih sobekan kertas, tempat kalimat tersebut dipahat?

Tidak banyak benda2 penting dalam hidup kita. Dan sebagian besar kita sepakat, cincin nikah adalah salah satunya. Ia adalah simbol ikatan penting dalam sejarah hidup kita. Ia adalah monument yg mengalihkan perwalian dari ayah kepada suami, yg akan bertanggung jawab tentang diri seorang wanita di dunia, dan kelak di hadapan Allah SWT. Ia adalah pemutus kesendirian dan pengubah fase hidup seorang wanita. Dan pasti, ia adalah 'kantong' kenangan bahagia kita. Jika bahagia adalah nuansa yg sangat sedikit kita miliki, maka yg terbanyak dari yg sedikit tersebut, pasti ada dalam cincin pernikahan kita.

Lalu bagaimana suasana hati yg menyerahkan cincin nikahnya utk membiayai pemenangan Gubernur yang sedang menjabat, agar maju satu periode lagi??? Sementara belum tentu dia mengenal dan pernah bertemu langsung dgn Sang Gubernur, apalagi dikenal oleh Gubernur dan dengan sengaja pernah mengunjungi langsung pemilik cincin tersebut. Sungguh, hanya dapat dipahami dengan bahasa lain yg tidak rasional dan matematis.

Teringat nasihat seorang teman tentang infaq. "Mas, infaq itu tidak matematis. Ia digerakkan oleh keyakinan. Ia adalah sumber kekayaan. Rumusnya ada 3: jangan ditimbang-timbang, jangan di pikir-pikir, dan lakukan sekarang juga. Tidak ada infaq utk seseorang. Jadi pastikan saja hanya utk Allah. Siapapun yg nanti memanfaatkannya, sama sekali tidak ada hubungannya dgn kita. Maka Allah akan gantikan dengan yg lebih baik dalam bentuknya yg beragam. Lakukan saja dan Allah akan perlihatkan buktinya".

Tentulah pemilik cincin tersebut memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Keyakinan yg kuat tentang peran politik dalam tugas dakwahnya. Keyakinan yang kuat tentang sumber kebahagiaan dirinya. Dan keyakinan yang kuat atas sosok Gubernur yg akan memanfaatkan infaqnya. Bahwa apa yang dilakukannya pasti tidak sia-sia.

Sekiranya bisa berpesan, semoga dinamika lapangan ini, menjadi bagian dari kesadaran para pemangku amanah dakwah politik. Menjadikannya sebagai hakim yang mengawasi, bahwa kalau dia lacur dalam amanah, dia khianat kepada Allah, dan mengecewakan sosok2 pemilik cincin yang tulus. Pemilik cincin nikah ini hanyalah masyarakat biasa. Mungkin seorang istri dan ibu rumah tangga. Jauh dari publisitas media. Namun dia ada dan eksis dalam perjuangan keyakinannya. Dan akan ada masa Allah membanggakan dirinya, dan menuntut tanggung jawab penerima amalannya.

Semoga kita semua selamat menjalani keyakinan dan peran dakwah kita masing2. Dan kepada pemilik cincin nikah, siapapun dirinya, semoga keberkahan melimpah bagi dirinya, keluarganya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya. Dan transaksi infaqnya, menjadi rahmat Allah memasukkannya ke Surga... Amin Ya Rabb.

Kukusan, dalam lembut gerimis matahari ke 6, tahun 2013 @daengdhuafa