Sabtu, 24 Juli 2010

Relawan Indonesia Bangun Sumber Air Bersih di Gaza


detikcom - Gaza, Tim Relawan Indonesia dari Dompet Dhuafa (DD) membangun tiga sumber air bersih di di Gaza, Palestina. Fasilitas senilai Rp 1 miliar tersebut diharapkan dapat beroperasi pada bulan Ramadhan mendatang dan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadao Israel dalam pasokan air dan makanan.

General Manager Program Sosial DD, Bambang Suherman menyatakan, ketiga sarana air bersih itu masing-masing berkapasitas 80 ribu liter per jam. Fasilitas ini akan memberikan manfaat besar bagi upaya pemandirian warga.

Gaza hingga saat ini masih terus berjuang untuk memenuhi
kebutuhan dasar pangan mereka dari kemampuan mereka sendiri.

"Air bersih ini bermanfaat untuk mendukung upaya reviltalisasi kawasan perkebunan dan pertanian di Gaza sehingga warga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri," kata Bambang Suherman melalui telepon kepada detikcom di Medan, Sabtu (24/7/2010).

Disebutkan Bambang, hingga sekarang warga di sana masih berupaya
merevitalisasi lahan pertanian di bekas lahan lama yang dulu dihancurkan Israel. Rusaknya lahan pertanian ini membuat warga memiliki ketergantungan yang besar terhadap Israel untuk keperluan pangan, seperti sayur dan buah-buahan.

Areal pertanian yang rencananya akan direvitalisasi tersebut luasnya mencapai 1.500 ekar (atau sekitar 607 hektar) yang terpisah di beberapa tempat.

Untuk mendukung upaya tersebut, dibutuhkan sumber air yang cukup banyak. Saat ini hanya ada empat sumber air bersih yang mampu mengairi lahan seluas 400 ekar. Dua di antaranya berkapasitas 30 ribu liter per jam dan dua unit lagi berkapasitas besar 80 ribu liter per jam. Dengan adanya pembangunan tiga sarana air bersih yang bersumber dari donasi warga Indonesia itu, maka areal yang akan direvitalisasi bertambah.

"Mungkin bertambah sekitar 300 ekar atau sekitar 121 hektar. Tentu saja air tersebut juga bermanfaat bagi keperluan sehari-hari
keluarga-keluarga yang ada di Gaza," kata Bambang.

Ketiga sumber air bersih yang dibangun DD tersebut terletak di
Rafah-Gaza, berbatasan dengan daerah Khan Yunis. Menurut Bambang, di
kawasan ini masih terlihat bangunan-bangunan permanen bekas tempat
tinggal yang sudah dihancurkan.

Dalam pembangunan sarana air bersih tersebut, yang dimulai sejak 17 Juli lalu, DD bekerjasama dengan lembaga Jama'ah al-Khairiyah al-Ijtima'iyyah yang dipimpin DR Fuad al-Nahl. Selain fokus pada bidang pertanian, lembaga ini juga juga memiliki organisasi intermediator untuk program pendidikan, kesehatan, dan rehabilitasi korban serangan Israel.

"Begitu MoU-nya ditandatangani, maka pembangunan langsung dimulai.
Secara teknis pengerjaan itu mereka yang kelola, tetapi komunikasi untuk mengetahui perkembangan proyek kerjasama itu tetap berlangsung.
Diperkirakan, pada Ramadan ini, atau sebelum musim dingin ketiga sarana air bersih tersebut dapat beroperasi," kata Bambang.

Jika sumber air itu bisa dioperasikan dan bisa menyuburkan lahan
pertanian di sana, maka warga Gaza tidak perlu membeli sumber pangan
seperti sayur dan buah-buahan dari luar, baik dari Mesir apalagi Israel.
 
Hanya kebutuhan listrik yang sampai saat ini masih bergantung kepada
Mesir dan Israel, kata Bambang.

Rabu, 21 Juli 2010

Dompet Dhuafa Republika Tinggalkan Gaza

REPUBLIKA.CO.ID,RAFAH—-Tim relawan dan media dari Dompet Dhuafa Republika meninggalkan Gaza City, Palestina. Tim yang berjumlah empat orang akan bertolak kembali ke Jakarta pada Rabu (21/7) malam dari Kairo, Mesir.

Kepulangan tim dari Gaza City dilepas oleh sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, dan mahasiswa di Rafah. Pimpinan Jam’iyyah Al-Khairiyyah Al-Ijtima’iyyah, Fouad Al Nahhal, mengucapkan terima kasih kepada tim atas kedatangan mereka ke Jalur Gaza.

“Kalian telah melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat sini setelah perang. Silahkan kabarkan kepada umat muslim Indonesia betapa kami ingin hidup merdeka, berdaulat layaknya negara-negara lain di dunia,” papar Fouad di Rafah, Palestina.

Fouad melanjutkan, saat ini serangan militer Israel memang sudah bisa dikatakan berhenti. Namun agresi militer negara Yahudi tersebut bisa kapan saja terjadi lagi tanpa masyarakat Gaza tahu penyebabnya. “Tentu saja ini membuat kehidupan kami merasa terus terteror.”

Abu Khudaifah, pemuka agama di Yubna, menambahkan, rakyat Palestina di Jalur Gaza tidak akan berhenti berjuang untuk mempertahankan tanah dan hidup mereka. Kendati jumlah penduduk Gaza hanya sekitar 1,7 juta jiwa, namun kekuatan yang dimiliki Gaza sejatinya jauh lebih besar dari angka kuantitaif tersebut. “Selama Allah, Muhammad, dan Alquran ada bersama kami, kekuatan kami sangatlah besar. Apalagi kalian saudara-saudara muslim kami ada berdiri di samping kami,” imbuh Abu Khudaifah.

Ketua Tim Dompet Dhuafa Republika, Bambang Suherman, tak henti-hentinya menegaskan jika kunjungan masyarakat muslim Indonesia tidak akan berhenti sampai di sini. “Kami akan terus berdoa, mengirimkan bantuan, dan mengutus perwakilan ke sini. Bukan saja dari Dompet Dhuafa, tapi dari seluruh masyarakat Indonesia,” papar Bambang.

Dikatakan, masyarakat Indonesia akan senantiasa berada dalam satu barisan rakyat Gaza dalam mewujudkan kemerdekaan negara yang diimpi-impikan. Masyarakat Indonesia akan terus memberikan sumbangsih bagi perjuangan rakyat Palestina agar mampu menyandang status negara merdeka di benderanya. “Insya Allah, dengan izin-Nya pulalah Palestina akan segera merdeka dan kita, Indonesia dan Palestina, akan terus bersaudara sampai akhir zaman,” ucap Bambang.

Setelah berdialog dan makan bersama para tokoh Jalur Gaza di Rafah, tim pun meninggalkan ‘tanah suci’ Palestina menuju perbatasan di Rafah.

Di gerbang batas antara Palestina dan Mesir, rasa haru menggelayuti semua orang yang ada. Abu Musaf, pria yang menyediakan tempat tinggal selama tim Dompet Dhuafa berada di Gaza, tampak tak kuasa menahan tetesan airmatanya. Sungguh sangat kontras dengan badannya yang gagah nan tinggi tegap. Abu Musaf satu persatu memeluk anggota tim Dompet Dhuafa, yaitu Bambang Suherman, Herman Budianto, Muhammad Fani Rahman, dan EH Ismail.

“Sungguh kalau bisa, saya senang jika kalian bisa berada di sini selamanya. Jika negara ini sudah merdeka, datanglah kalian kesini, rumah saya terbuka lebar untuk kalian semua muslim Indonesia,” tutur Abu Musaf.

Abu Musaf pun menambahkan, bila saja bisa, dirinya ingin berkunjung ke Indonesia dan menyapa semua muslim tanah air serta merangkulnya satu per satu. “Kalian muslim Indonesia sungguh telah membuat kami makin kuat, kuat, dan kuat untuk memperjuangkan Palestina Merdeka,” kata Abu Mushaf melepas tim.

Dompet Dhuafa telah berada di Gaza selama sepekan dalam rangkan menjalankan misi bantuan kemanusiaan berupa pembangunan instalasi air untuk perkebunan di Rafah dan Jabaliya. Nilai bantuan yang disalurkan mencapai Rp 1 miliar rupiah.

Selain Dompet Dhuafa, M Fani Rahman yang merupakan perwakilan dari Sahabat Al-Aqsha (Suara Hidayatullah) juga menyalurkan bantuan untuk pembangunan satu unit instalasi air di Jabaliya. Selain itu, Sahabat Al-Aqsha juga menyalurkan bantuan langsung untuk para korban perang Gaza, anak-anak yatim, dan para penghuni camp pengungsian di Rafah, Beit Hanon, Beit Lehiya, dan Jabaliya. Bantuan yang disalurkan Sahabat Al-Aqsha mencapai Rp 500 juta. (eh.ismail)

Selasa, 20 Juli 2010

Anak-Anak, Amunisi Permanen Intifadah


Namanya Ahmad, salah satu nama paling popular di wilayah Gaza. Wajahnya khas, wajah Palestina. Hidungnya yang tinggi membuat cekung matanya tampak tajam. Kulitnya putih. Perawakannya gempal. kalau diam, orang akan mengira dia anak yang lambat. Saya bertemu Ahmad di tepi pantai wilayah Khan Yunes, Salah satu wilayah teramai di Jalur Gaza sepanjang waktu. Saat itu, Ahmad dan sekitar 15 orang temannya sedang liburan sekolah musim panas. Mereka berseragam olah raga dan beberapa diantanya memegang bola sepak.

Awalnya mereka sungkan. Namun ketika saya memberi salam sembari tersenyum ramah, mereka malah merapat. Mungkin karena mereka jarang melihat orang asing, apalagi asing dan muslim. Sebentar saja kami langsung akrab. Salah seorang instruktur yang bersama mereka memperkenalkan saya kemudian.

Anak-anak ini bukan anak-anak sembarangan. Topi di kepalanya menjadi pembeda. Ia mengenakan topi berlogo mihrab al-Quds diselimuti slayer palestina dengan dua pedang menyilang di depannya. Di bagian bawah terdapat pita dengan tulisan berbahasa arab, harakatul muqowwamatul Islamiyah. Hamas. Dari sang instruktr saya mengetahui, bahwa mereka sedang dalam kegiataan summer camp. “Anak-anak adalah sosok dengan energi yang besar. Karena itu kami harus memastikan mereka memiliki cara yang tepat untuk menyalurkannya”, ujar Yusuf, salah satu instruktur summer camp.

Setelah cukup bersalam-salaman, Ahmad maju ke depan teman-temannya. Sebentar kemudian mengalun dari mulutnya nada-nada lagu. Saya tidak paham betul maksudnya, namun dari cerita instruktur yang ada, ternyata Ahmad sedang melantukan syair tentang kondisi mereka. “Tanah kami dirampok. Kebebasan kami direnggut. Tapi kami tidak bersedih. Justru mereka yang bersedih. Kami akan mengambilnya kembali. Hanya menunggu waktu saja. Dan kami akan mengalahkan mereka. Baik hidup maupun menjadi syuhada”. Serentak teman-teman Ahmad kompak berseru, “Birruh… biddam… nafdhika Yaa Aqso”, Dengan ruh… dengan darah… akan kubela engkau hai Aqso.


Mereka melantunkannya dengan lantang. Tangan mereka mengepal. Dada mereka membusung. Sikapnya sama seperti sikap pelajar Indonesia ketika menghormat bendera di upacara senin pagi. Dan setelah itu mereka bubar. Seperti Ahmad, mereka menghambur ke pantai. Meneruskan agenda mereka bermain bola.

Yusuf menjelaskan kepada saya bahwa ini salah satu kegiatan yang paling ditakuti oleh Yahudi. Anak-anak Palestina adalah anak-anak pejuang. Mereka dididik dalam lingkungan perang. Mereka melihat langsung orang tua mereka syahid. Mereka membanggakan Ayah dan Paman mereka yang menjadi martir perjuangan. Mereke menghibur Ibundanya yang menjanda. Dan dengan itu semua mereka secara sadar membentuk citra dirinya sebagai pejuang.

Di Gaza, anak-anak memiliki tempat yang terhormat. Tidak ada suara tinggi yang menghardik. Tidak ada tatapan meremehkan bagi mereka. Dan mereka bebas duduk di salah satu kursi dalam pertemuan para pemimpin. Sedikit pun, mereka tidak sungkan. Mereka dimuliakan. Salah seorang pasukan perlawanan Hamas, setiap kali bertemu dengan ponakannya, mereka saling melempar gurau dan kehangatan. Seolah mereka habis berpisah lama. Hal yang membuat saya terpesona.

Anak-anak di Gaza, bersahabat dengan perang. Mereka berlarian di antara runtuhan bangunan. Sembari membanggakan anggota keluarganya yang syahid di tempat itu. Mereka menendang bola kaki dilapangan, yang bangunannya masih membekas jejak-jejak semburan altileri berat. Dan mereka bersenda gurau di lubang lebar bekas terjangan roket. Anak-anak di Gaza adalah nafas perlawanan. Mereka dicintai dan disayangi. Dan mereka mencintai dan menyayangi. Saya meninggalkan mereka dengan wajah dua bidadari kecil yang menunggu di Jakarta. Rasanya saya masih kurang memuliakan mereka.

Bagaimana anak-anak ini sedemikian berharga bagi para pejuang di Gaza. Hal tersebut terjawab ketika saya mengunjungi mesjid “Ibadurrahaman”. Sekitar 300 anak, terpisah lelaki dan perempuan, duduk berkelompok sepuluh-sepuluh. Setiap kelompok ditemani satu guru. Mereka sedang menghafalkan Al-Qur’an. Dalam waktu dua bulan mereka dinyatakan lulus 30 juz. Subhanallah!

Selama libur musim panas. Mereka mulai kegiatan menghafal Al-Qur’an sejak setelah shalat Subuh. Sampai pukul 06 mereka menghafal ayat baru. Setelah itu sampai pukul 8 mereka menyetor hafalan. Setelah itu mereka istirahat sejam. Selanjutnya menghafal ayat baru sampai pukul 10.30. Kemudian di isi tafsir sampi menjelang Dhuhur. Dan kegiatan berakhir setelah shalat Dhuhur. Makanya tidak heran, jika Gaza berhasil melantik 3000 anak hafal Al-Qur’an dalam 3 bulan.

Inilah ruh perjuangan sekaligus pasukan permanen yang menakutkan. Mereka mengisi jiwa dan fikirannya dengan ayat-ayat Allah. Dan lingkungan memperkenalkan jihad kepada mereka dengan sederhana. Lalu mereka membentuk figur dan tokoh dari sosok dekat yang mereka banggakan. Seperti di Indonesia, jika kita bertanya kepada seorang anak tentang cita-citanya, kita akan dijawab, “menjadi dokter seperti Ayah”, bedanya anak-anak Gaza menjawab, “seperti Ayah, menjadi pasukan Al-Qossam dan syahid menghadap Allah”