Minggu, 06 Januari 2013

Cincin Nikah untuk (Calon) Gubernur


Ahad pagi 6 Januari. Hujan berganti-ganti deras dan gerimis. Menjadi salah satu hari penting dalam hidup saya. Sebuah pertemuan yang saya fasilitasi utk menggalang dana kader, bagi hajatan politik di Jawa Barat.

Ekspektasi saya sederhana, sekedar rupiah yg ada di kantong, atau selembar-dua diantara yg terselip di dompet. Mengingat ini adalah memenangkan Gubernur yang menjabat. Tentulah ada persiapan yg cukup utk maju. Apalagi memasuki periode kedua. Pastilah matang perhitungan matematis, materil dan nonmateril. Namun kenyataannya berbeda. Dimamika di lapangan menuntut insiatif pembiayaan yang tidak bisa menunggu. Maka, dari sekitar 30 orang berhimpun, lelaki dan perempuan, terkumpul lebih dari 20 juta rupiah; beberapa komitmen rupiah tambahan, dan beberapa barang. Nilai yang cukup besar untuk ukuran penggalangan level kelurahan.

Kumpulan ini berlangsung di mushallah kecil, di pinggir Jawa Barat, di Kukusan-Depok. Dihadiri oleh kebanyakan Ibu-Ibu, sebagian besar Ibu Rumah Tangga. Walau sebagian ada yang PNS dan profesional medis dan lain-lain. Saya menakar tentulah matang perhitungan Ibu2. Terutama berkaitan dgn pengeluaran dan biaya tambahan.

Maka hasil penghimpunan yg terkumpul menghentak benak saya. Ada yg tidak bisa dimengerti secara pragmatis. Bagaimana kumpulan orang-orang ini mau mengeluarkan anggaran 'ekstra' mereka utk membiayai Gubernur yg telah 5 tahun memimpin daerah dengan PAD Rp 13 Trilyun??

Kenyataan ini menggelitik nalar logis yg sangat lazim sy gunakan. Kecuali ada hal lain, sesuatu yg sangat prinsipil, maka realita ini bisa dipahami. Karena selain uang yg terkumpul, ada satu cincin emas yg mencolok diantara tumpukan uang merah, biru, dan benda2 lain. Benda tersebut sebelumnya berada didalam lipatan kertas yang bertulis "ini cincin nikah saya, tapi lupa berapa gram bobotnya".

Ringan saja, kalimat tulisan tersebut tertera. Sulit bagi saya menakar beban pertimbangan kalimat tertulis. Jika tersampaikan lisan, akan mudah menakar raut wajah. Namun bagaimana menakar ekspresi pemilik lembar putih sobekan kertas, tempat kalimat tersebut dipahat?

Tidak banyak benda2 penting dalam hidup kita. Dan sebagian besar kita sepakat, cincin nikah adalah salah satunya. Ia adalah simbol ikatan penting dalam sejarah hidup kita. Ia adalah monument yg mengalihkan perwalian dari ayah kepada suami, yg akan bertanggung jawab tentang diri seorang wanita di dunia, dan kelak di hadapan Allah SWT. Ia adalah pemutus kesendirian dan pengubah fase hidup seorang wanita. Dan pasti, ia adalah 'kantong' kenangan bahagia kita. Jika bahagia adalah nuansa yg sangat sedikit kita miliki, maka yg terbanyak dari yg sedikit tersebut, pasti ada dalam cincin pernikahan kita.

Lalu bagaimana suasana hati yg menyerahkan cincin nikahnya utk membiayai pemenangan Gubernur yang sedang menjabat, agar maju satu periode lagi??? Sementara belum tentu dia mengenal dan pernah bertemu langsung dgn Sang Gubernur, apalagi dikenal oleh Gubernur dan dengan sengaja pernah mengunjungi langsung pemilik cincin tersebut. Sungguh, hanya dapat dipahami dengan bahasa lain yg tidak rasional dan matematis.

Teringat nasihat seorang teman tentang infaq. "Mas, infaq itu tidak matematis. Ia digerakkan oleh keyakinan. Ia adalah sumber kekayaan. Rumusnya ada 3: jangan ditimbang-timbang, jangan di pikir-pikir, dan lakukan sekarang juga. Tidak ada infaq utk seseorang. Jadi pastikan saja hanya utk Allah. Siapapun yg nanti memanfaatkannya, sama sekali tidak ada hubungannya dgn kita. Maka Allah akan gantikan dengan yg lebih baik dalam bentuknya yg beragam. Lakukan saja dan Allah akan perlihatkan buktinya".

Tentulah pemilik cincin tersebut memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Keyakinan yg kuat tentang peran politik dalam tugas dakwahnya. Keyakinan yang kuat tentang sumber kebahagiaan dirinya. Dan keyakinan yang kuat atas sosok Gubernur yg akan memanfaatkan infaqnya. Bahwa apa yang dilakukannya pasti tidak sia-sia.

Sekiranya bisa berpesan, semoga dinamika lapangan ini, menjadi bagian dari kesadaran para pemangku amanah dakwah politik. Menjadikannya sebagai hakim yang mengawasi, bahwa kalau dia lacur dalam amanah, dia khianat kepada Allah, dan mengecewakan sosok2 pemilik cincin yang tulus. Pemilik cincin nikah ini hanyalah masyarakat biasa. Mungkin seorang istri dan ibu rumah tangga. Jauh dari publisitas media. Namun dia ada dan eksis dalam perjuangan keyakinannya. Dan akan ada masa Allah membanggakan dirinya, dan menuntut tanggung jawab penerima amalannya.

Semoga kita semua selamat menjalani keyakinan dan peran dakwah kita masing2. Dan kepada pemilik cincin nikah, siapapun dirinya, semoga keberkahan melimpah bagi dirinya, keluarganya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya. Dan transaksi infaqnya, menjadi rahmat Allah memasukkannya ke Surga... Amin Ya Rabb.

Kukusan, dalam lembut gerimis matahari ke 6, tahun 2013 @daengdhuafa

Minggu, 23 Desember 2012

Rahim-Rahim Mujahid


Sepanjang jalan di Gaza siang hari, ramai pelajar dan masyarakat beraktifitas. "Normal, jika tidak ada serangan Israel", ujar Ikhwan, relawan Indonesia di Gaza. Laki-laki maupun perempuan, tampak tenang melaksanakan dinamika mereka.

Beberapa mahasiswa akhwat menunggu kendaraan utk melintas jalan. Wajah mereka putih memerah, akibat dingin dan angin yg berhembus. Suhu saat ini 12 derajat Celsius dan akan terus turun. Kami bertanya kepada Brother Jomah tentang aktifitas akhwat di Gaza. Jomah, sambil menyetir mobil menjelaskan, "mereka merdeka. Mereka melaksanakan aktifitas dan pendidika dengan tenang".

Sambil bercanda Faris mengomentari, "Kok nanya2 ttg akhwat Gaza Mas?", "Kasihan Mas Ikhwan kataku, udah setahun di sini", ujarku. Kami semua tersenyum-senyum, bahkan brother Jomah kelihatan malu2.

Tidak lama kemudian, tampak konvoi mobil pengantin yg panjang. Lebih dari 20 mobil, dgn warna dan corak yg sama. Mereka mengisi satu jalur yang panjang. Oleh brother Jomah dijelaskan bahwa itu adalah iring-iringan pengantin. "Itu merupakan efek dari kemenangan sementara perang 8 hari. Nikah massal diselenggarakan antara Hamas dan Fatah", jelasnya. "Alhamdulillah", aku menimpali.

Pernikahan adalah kejadian biasa di Gaza. Berbeda dengan di Indonesia, pernikahan di Gaza tidak menunggu hari libur. Hampir tiap hari lazim dijumpai mobil-mobil dgn hiasan khusus penanda mobil pengantin. 3 hari pertama saya di Gaza, setiap hari bertemu dengan iringan mobil pengantin. Menarik memikirkannya, mengingat asosiasi pengantin adalah bertambahnya anak2. Hal yg selalu menjadi kebanggaan di Gaza ini.

Tema pernikahanpun menjadi pembahasan hangat kami. Menurut Brother Jomah, menikah di sini ada kekhasannya. Siapkan mahar 5000 USD. Setelah itu akad berlangsung. Namun ada waktu sampai pesta barulah resmi berpasangan sejati. Rentang akad sampai pesta bisa sebulan, bisa pula lebih. Walau ada juga yang lebih cepat. Rentang waktu antara akad dan walimah digunakan untuk saling kenal. Semacam ta'aruf jika di Indonesia. Boleh berpegangan dan berjalan bersama, tapi tidak boleh lebih dari itu. Selalu ada keluarga perempuan yang mengawasi. Dan jika merasa tidak cocok, talaq bisa dijatuhkan. Saat masing-masing masih sesuci sebelum akad.

Nahhh... Meskipun ada pro kontra mendiskusikannya, terutama karena kami semua orang Indonesia dan hanya 1 orang mewakili Gaza, namun kami memahaminya sebagai aturan budaya. Hal yang dibangun oleh proses panjang nilai2 masyarakat. Dan Gaza berlandaskan nilai Islam dan budaya kebaikan dari panjangnya kejayaan peradaban Salahuddin al-Ayyubi.

Namun Brother Jomah menjelaskan dengan sangat baik. "Perempuan kami shalihat. Lebih cantik dari pada perempuan Mesir", ujarnya meskipun Faris--mewakili orang Mesir-- tidak sepenuhnya setuju. "Mereka menjaga dirinya. Tidak satupun trend yang membuka aibnya. Mereka tidak terjebak mode negatif, tidak rusak oleh acara TV. Dan terpenting mereka menghafal al-Qur'an. Dan mereka melahirkan mujahid penghuni Surga. "Bagaimana mungkin hal semahal itu akan dihargai dengan nilai yang sedikit?" Jelas Brother Jomah.

Saya terdiam merenungkannya. Meskipun sulit menerima batasan pasca akad yang tidak 'normal', namun sebenarnya rasional. Perempuan Gaza adalah Rahim mujahid. Kandungan yang membesarkan dan mendidik penghuni surga. Diluar kehendak Allah, manalah mungkin masuk surga jiwa2 yg lahir dari rahim yang tidak terjaga. Membayangkan keberanian anak-anak Gaza, dan kejelasan cita-cita yg diajarkan kepada mereka, dan pemahaman mereka tentang al-Qur'an yg sempurna, sulit membayangkan dididik kecuali oleh perempuan yang sempurna, jasad-rahim maupun ruh-hatinya. Maka layaklah rahim-rahim penghuni surga itu ditempatkan mulia dan dalam kemuliaan.

Dalam rentang perang 8 hari, ada sekitar 18 anak-anak Gaza yang syahid. Namun Allah muliakan perempuan Gaza. Dalam rentang perang tersebut, 1200 anak-anak Gaza terlahir. Amunisi sejati mereka diberkahi Allah. Generasi pejuang mereka tidak sedikitpun terhenti. Jika ditanyakan kepada pasukan zionis tentang ketakutan mereka, jawabnya pasti anak-anak Gaza. Itulah mengapa, anak-anak menjadi salah satu target utama sasaran agresi militer mereka.

Semoga Allah menjaga perempuan Gaza. Memuliakan mereka dan menguatkannya. Senantiasa menjadikannya sumber semangat, sumber kekuatan, sumber pasukan dan sumber kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Dan tetap, sampai akhir Zaman, menjadi rahim2 mujahid. Meskipun Al-Quds telah terbebas, dan Palestina telah merdeka. Dan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Sabtu, 22 Desember 2012

8 Hari Bahagia Pejuang Gaza


Mobil Sedan Kia berwarna Ungu Muda hancur. Hanya bagian mesin depan yg utuh. Bodi utama mobil disatukan dengan keempat pintunya menggunakan kawat, demikian pula dengan serpihan2 bagian belakang mobil. Banyak dari bagiannya tampak sebagai lelehan besi panas yg mengering. Jika diperhatikan bentuk umum mobil tersebut, maka sangat jelas gambaran lubang besar di bagian tengah dan meluas. Demikian penampakan kendaraan komandan Izzuddin Al-Qossam, Ahmad Said Jabbari, yg oleh sahabat-sahabatnya di panggil Abu Muhammad.

As-Syahid di bom oleh Israel dengan menggunakan drone ketika dalam perjalanan, setelah bertemu dengan Raja Qatar di Gaza. Sebagaimana yang dirilis banyak media, bom jatuh tepat di bagian tengah mobil tersebut. Mengangkat derajat Sang komandan beserta satu orang pengawalnya. Bersanding di sisi Allah SWT.

Pasca serangan tersebut, seluruh kelompok perlawanan di Gaza bersatu. Brigade Saroya Al-Quds, Izzuddin al-Qossam, Brigade Al-Aqso, dan Brigade Abu Ali Mustofa untuk saling mendukung. Mereka menggelar kekuatan di bawah koordinasi Al-Qossam, melakukan balasan yang memaksa Israel untuk meresponya dengan operasi militer.

Pemerintah Israel menciptakan opini seolah perang ada dalam skenario mereka di Gaza. Sesungguhnya mereka dipaksa untuk merespon pejuang Gaza yang marah. Netanyahu mendesak parlemennya untuk meluluskan anggaran perang. Hasilnya tidak bulat, sebagain setuju ada yang keberatan.

Di lapangan, selama puluhan tahun ke belakang, Israel merasa jumawa dengan opini kekuatan meiliternya yang dibanggakan. Setiap kali berhasil mensyahidkan satu pejuang Hamas, atau merusak wilayah Gaza dgn bom Drone, direspon dengan rudal made in lokal yg 'lemah'. Ini membuat Israel salah menilai kekuatan pejuang Gaza, sekaligus menampakkan kecerdasan para pejaung Gaza menyimpan kekuatan mereka. Dengan analisa salah inilah Israel berani menggelar operasi militer ke wilayah Gaza.

Hasilnya mengejutkan. Petang sebelum magrib di hari kedua agresi Israel, di banyak media di Gaza, pasukan Hamas mengumumkan berita gembira, "wahai Gaza, akan ada berita gembira sejam lagi, tunggulah", demikian dituturkan Husein, pelajar Indonesia yang kuliah di Fakultas Syariah Universitas Gaza. Sejam kemudian, Chanel 2 dan Chanel 9 TV Israel mengabarkan kepanikan Tel Aviv akibat rudal M75 menghancurkan salah satu sudut kota dan menewaskan belasan orang, termasuk tentara Israel. Jauh lebih banyak dari 3 org sebagaimana dirilis media-media di Indonesia.

"Dan suasana seperti ini sering di lakukan pasukan Hamas", ujar Husein. "Mereka cerdas, membangun psikologi pemenang utk masyarakat Gaza". Beberapa kali setelah itu, kabar-kabar gembira di sampaikan. Kejatuhan Apache di daerah Khan yeunis, lumpuhnya kapal perang Israel di perairan, jatuhnya dua buah F16 Israel, meningkatkan moral pejuang Gaza dan masyarakat. Apalagi kemenangan tersebut diperoleh dari kekuatan persenjataan yang digalang sendiri oleh pejuang Gaza. Roket M75 menjadi brand produk paling populer di Palestin, bukan hanya untuk perang, tapi namanya menjadi merk minyak wangi yang digandrungi sampai ke tepi barat dan Jerussalem.

Keberhasilan M75 mancapai tel Aviv, diduga menjadi pertimbangan serius yang memaksa Netanyahu memutuskan menerima gagasan gencatan senjata dari Presiden Mesir, Muhammad Mursi. Salah satu pejabat Israel bahkan memberikan ulasan bahwa Hamas memiliki tidak kurang dari 10 ribu roket. Dan 30% diantaranya adalah roket jarak jauh. Dalam 8 hari pertempuran, Hamas mengirimkan tidak kurang dari 1000 roket, dan masih memiliki ribuan roket yg mengancam Tel Aviv.

Setelah keberhasilan M75 menjangkau ibu kota Israel, sekitar 1500 orang Israel menyembunyikan diri ke bunker bawah tanah di kota tersebut. Sangat kontras dengan anak2 di Gaza. Mereka tetap menikmati bermain bola di tengah hujan bom pasukan udara Israel. Menurut penuturan Nur Ikhwani Relawan Indonesia yang sudah setahun di Gaza, anak-anak tersebut bahkan berlarian keluar, ingin melihat jet tempur F16 Israel, saat orang2 dewasa mendesak mereka untuk masuk dan bersembunyi. "Anak-anak kami pemberani. Kami kehilangan 16 anak yg di bom Israel saat mereka tetap menikmati permainan bola mereka," ujar Jomah An Najar, salah satu pejuang Gaza. "Israel frustasi. Mereka tidak tahu mana lagi sasaran Drone dan Jet tempur mereka. Mereka kehilangan jejak lokasi-lokasi pejuang al-Qossam. Maka anak-anak di lapangan terbuka pun di bom", jelas Jomah.

8 hari pertempuran di Gaza, memberikan efek yang berbeda. Ribuan keluarga Yahudi di Israel meminta proses evakuasi ke Jordan dipercepat. Sementara di Gaza, para pejuang membanggakan masyarakat dan teman mereka yg syahid. Kepercayaan diri yang tinggi akan kemampuan kekuatan militer mereka, membuat masyarakat dan pejuang Gaza gembira menyambut kesempatan syahid. Foto-foto As-Syahid di pajang di jalan-jalan, persis seperti pilkada di Indonesia. Seperti pesta di Gaza, 8 hari pertempuran adalah 8 hari berbahagia.